Menjawab Pertanyaan Terkait Gempa Lombok 2018

Share
By Julianto Prabowo September, 24 2018 Intermezo
Menjawab Pertanyaan Terkait Gempa Lombok 2018

Indonesia dikelilingi dengan sumber gempa yang selalu bergerak dan terkadang menghasilkan gempa yang berkekuatan lemah maupun kuat. Sejarah menunjukkan bahwa wilayah Lombok pernah mengalami gempa kuat. Di tahun 1257, terjadi letusan gunung api dan gempa bumi tujuh hari berturut-turut dan diikuti tsunami. lalu pada tahun 1815, 1856, 1970, 1978, 1979, 2000, 2013, dan 2016.

Semua lempeng aktif di Indonesia, termasuk lempeng Indo-Australia yang menghujam di bawah pulau Lombok bergerak dengan ekcepatan rata-rata sekitar 7 cm per tahun. Lebih lambat dari kecepatan tumbuhnya kuku di jari manusia. Lempeng ini bertumbukan sambal bergerak perlahan, dan sering tertahan dengan lempeng lainnya. Pada saat itulah lempeng bumi mengumpulkan energi terus menerus, sampai menemukan caranya sendiri untuk melepaskannya melalui gempa besar mau pun kecil.

Bukan gempanya yang menyebabkan bencana, namun bangunan yang tidak tahan gempa yang mengakibatkan bencana.

 

    1.  Mengapa terjadi gempa beruntun di Lombok?

Pulau Lombok dikelilingi beberapa sumber gempa. Namun karena keterbatasan studi yang ada, masih terdapat sumber gempa yang belum diketahui.

Sumber gempa di Lombok bagian utara melepaskan energi secara perlahan dan bertahap yang dipicu dengan gempa tanggal 29 Juli 2018 dan gempa pada tanggal 5 Agustus 2018 dan diikuti serangkaian gempa susulan yang saat ini masih terjadi. Gempa di Lombok Utara ini kemudian memicu pergerakan sumber gempa di Lombok timur yang terjadi pada 19 Agustus 2018.

 

    2.  Kapan gempa di Lombok berakhir?

Teknologi saat ini sudah mampu memprediksi potensi energi yang tersimpan dan terlepas pada sebuah segmen gempa. Namun belum mampu memprediksi hinggi waktu tanggal dan jam kapan terjadinya gempa.

Gempa-gempa susulan yang dipicu gempa besar beberapa waktu lalu mulai reda. Namun gempa berkekuatan kecil masih akan terjadi di Lombok sebagai bentuk penyelesaian pelepasan energi di segmen utara Lombok. Di sisi lain, guncangan gempa mempengaruhi kekuatan bangunan, termasuk rumah.

 

    3.  Apakah gempa-gempa berikutnya bisa berpotensi tsunami?

Ya, gempa dapat memicu trunami apabila terjadi guncangan yang keras (membuat anda sulit berdiri) atau cukup lama (lebih dari 1 menit), dan sumber gempa berada di dasar laut dengan kedalaman kurang dari 40 km. Jadi pahami jalur dan tempat evakuasi terdekat dari rumah/lokasi anda berada. Persiapkan perlengkapan siaga dan letakkan di tempat yang cepat dijangkau.

 

    4.  Sumur kering dan keluar pasir, ini tanda apa?

Fenomena sumur kering dan keluar pasir adalah dampak dari guncangan kuat pada lapisan tanah pasir yang gembur sehingga air di dalam tana begerak muncul ke permukaan, temasuk melalui lubang sumur. Ada juga situasi dimana air beserta pasirnya menyembur melalui retakan permukaan tanah akibat gempa.

Fenomena ini dinamakan likuifaksi. Likuifaksi bukanlah pertanda akan terjadi gempa, namun merupakan dampak sesudah terjadi gempa. Di beberapa kejadian, likuifaksi bisa menyebabkan bangunan miring, turun bahkan rubuh jika bangunan memiliki struktur dan pondasi yang lemah. Apabila daerah anda terjadi fenomena likuifaksi, pastikan pada saat membangun kembali rumah, struktur dan pondasinya kuat terhadap likuifaksi.

 

   5.  Bagaimana mengetahui rumah aman setelah gempa?

Rumah yang masih berdiri tegak namun banyak retakan perlu dicermati. Bisa jadi dalam kejadian gempa berikutnya, rumah Anda semakin rusak meskipun diawal hanya ada retakan-retakan pada dinding. Namun jika kondisi rumah terlihat masih kokoh dan stabil (tidak terlihat miring atau ambles), sambungan kolom dan balok terlihat masih utuh, ikatan kolom (atau balok) dengan dinding terlihat utuh dan tidak lepas maka kemungkinan rumah Anda masih relatif aman.

Rumah yang retak-retaknya sedikit juga bisa roboj apabila bangunannya lemah dan sistem struktur pengikat (balok dan kolom) tidak terpasang secara lengkap di sekeliling dinding tembok bangunan.

 

   6.  Masih ada barang-barang berharga di dalam rumah, bagaimana mengambilnya?

Hindari masuk rumah atau bangunan apabila Anda tidak yakin bangunannya aman. Jika sangat terpaksa harus masuk ke dalam bangunan/ rumah, lakukan dengan hati-hati dan pelajari terlebih dahulu jalur masuk dan keluar dari rumah atau bangunan.

Lindungi kepala saat masuk kedalam rumah dan antisipasi benda-benda yang mungkin jatuh. Hati-hati terhadap pecahan kaca, benda-benda tajam, dan kabel listrik. Sebisa mungkin lindungi diri menggunakan helm, sarung tangan, peluit, celana panjang, sepatu tebal, dan kacamata pelindung.

Usahakan menginformasikan kerabat atau anggota keluarga lainnya (yang ada di luar) bila ingin masuk ke rumah.

 

   7.  Barang apa saja yang perlu kita siapkan untuk keadaan darurat bencana?

Hal yang penting diingat adalah isi dan jumlah dari perlengkapan siap siaga ini bervariasi menyesuaikan dengan jenis ancaman bencana, lokasi, dan juga karakteristik orang-orang yang akan menggunakannya.

Misalnya, untuk penderita asma, penting untuk memasukkan inhaler/obat asma nya ke dalam perlengkapan siap siaganya. Atau untuk penderita diabetes/hipertensi yang perlu minum obat setiap hari, sebaiknya memasukkan obat-obatan yang terkait. Dan tak kalah pentingnya, pastikan orang-orang mengetahui dimana letak perlengkapan inidan juga paham cara menggunakannya.

 

   8.  Apa yang harus kita lakukan bila terjadi gempa?

Prinsip utama adalah kenali bahayanya, dan kurangi risikonya. Pastikan terlebih dahulu kalau bangunan yang kita akan gunakan aman dari ancaman gempa susulan. Apabila tidak aman, sebaiknya lakukan kegiatan diluar rumah.

Bila terjadi gempa saat kita berada di dalam ruangan, lakukan upaya berlutut, berlindung, dan bertahan. Jika tidak ada meja didekat kita, kembali ke prinsip dasar, yaitu lindungi organ-organ vital: kepala, leher, dan dada. Bila berada di dalam bangunan yang dinilai tidak kuat dan jalur keluar aman, segera keluar bangunan sambal melindungi kepala, leher dan dada. Jika berada di luar ruangan, lakukan berlulut, berlindung, dan bertahan di tempat yang lapang dana man dari bangunan, tilang dan pohon yang bisa menimpa kita. Setelah guncangan berhenti, matikan listrik, dan bergerak keluar bangunan dengan tertib dan teratur.

 

   9.  Apa yang harus kita lakukan saat di sekolah darurat?

  • Kenali bahaya di dalam kelas dan di lingkungan sekolah
  • Amankan lokasi dari tiang, pohon, bangunan, atau benda yang bisa jatuh
  • Hati-hati pecahan kaca, puing-puing bangunan, dan benda tajam
  • Pastikan jalur evakuasi aman dari puing dan hambatan lainnya
  • Kenali lokasi berkumpul yang aman
  • Gunakan metode bermain, bergambar, dan bernyanyi saat belajar
  • Gunakan material di lingkungan sekitar untuk berhitung dan bermain
  • Pastikan bahan ajar aman digunakan anak-anak
  • Komunikasikan kepada orang tua orang yang bisa dihubungi dan lokasi kumpul
  • Pastikan sekolah memiliki perlengkapan darurat
  • Pastikan murid membawa perlengkapan siap siaga di tasnya
  • Bila terjadi gempa, lakukan berlutut, berlindung dan bertahan
  • Setelah guncangan berhenti, evakuasi dengan tertib ke lokasi berkumpul
  • Hitung jumlah anak dan guru serta cek kondisi pada sesudah gempa
  • Laporkan situasi kepada pengawas dan dinas Pendidikan setempat

  10.   Apa yang harus kita lakukan saat di pengungsian?

  • Amankan lokasi dari tiang, pohon, bangunan, atau benda yang bisa jatuh
  • Hati-hati pecahan kaca, puing-puing bangunan, dan benda tajam
  • Gunakan selimut dan alas tidur di malam hari
  • Lakukan ASI eksklusif untuk bayi hingga 6 bulan
  • Biasakan cuci tangan pakai sabun
  • Lindungi tempat air bersih dan makanan dari kotoran, debu, dan lalat
  • Masaklah terlebih dahulu air bersih
  • Buanglah sampah di tempat sampah
  • Lakukan buang air besar dan kecil di jamban
  • Periksa ke tenaga kesehatan terdekat jika ada yang sakit
  • Lindungi anak-anak dari kekerasan
  • Makan makanan bergizi
  • Tidak merokok di pengungsian
  • Kendalikan stress dengan melakukan kegiatan Bersama
  • Lakukan bermain sambal belajar di pengungsian dan sekolah darurat

11.   Bagaimana mengetahui informasi yang beredar di media sosial itu benar?

Berhati-hati dengan judul provokatif. Pastikan informasi berasal dari sumber yang terpercaya dan Lembaga resmi (misal BMKG atau BNPB). Baca seluruh informasinya dengan seksama sebelum meneruskan beritanya kepada kerabat, keluarga dan orang lain. Bandingkan informasi dengan situs resmi atau media terpercaya lainnya.

 

 

Narasumber dan Kontributor:

  1.      Adrin Tohari (LIPI)
  2.      Ahmad Arif (Kompas)
  3.      Astyka Pamumpuni (ITB/PuSGeN/U-Inspire)
  4.      Danny Hilman Natawidjaja (LIPI/PuSGeN)
  5.      Daryono (BMKG/PuSGeN)
  6.      Deny Hidayati (LIPI)
  7.      Eko Yulianto (LIPI)
  8.      Iswandi Imran (ITB/PuSGeN)
  9.      Juraedah Dwi Anggraeni (IAGI NTB)
  10.   Kusnadi (IAGI NTB)
  11.   Muzli (BMKG/PuSGeN)
  12.   Triyono (LIPI)
  13.   Widjo Kongko (BPPT/PuSGeN)
  14.   Yusra Tebe (UNICEF)

INFO BENCANA/KRISIS KESEHATAN
Pilih Provinsi



DATA KESIAPSIAGAAN


DATA JUMLAH BENCANA TAHUN INI

SOSIAL MEDIA + APPS
Link Terkait