PPKK Go International sebagai WHO CC

6,325

 

PKK GO INTERNATIONAL
"WHO Collaborating Center for Training and Research on Disaster Risk Reduction"

 

 

Pusat Krisis Kesehatan (PKK) berkolaborasi dengan World Health Organization melalui World Health Organization Collaborating Centre (WHO CC) untuk Pelatihan dan Penelitian dalam Pengurangan Risiko Bencana dengan nomor referensi INO-22. Penunjukkan ulang Pusat Krisis Kesehatan sebagai WHO CC dilakukan pada tanggal 26 November 2020 untuk periode 4 tahun kedepan yaitu sampai tanggal 26 November 2024. Ini merupakan kali keduanya Pusat Krisis Kesehatan ditunjuk ulang sebagai WHO CC setelah sebelumnya dilaksanakan pada 2016. 

Penunjukkan Pusat Krisis Kesehatan sebagai WHO CC menjadi suatu kebanggaan karena diberi kesempatan untuk memberikan kemampuan terbaiknya tidak hanya skala nasional namun juga internasional. Selain itu, penunjukan tersebut merupakan suatu pengakuan terhadap kinerja Pusat Krisis Kesehatan selama ini, mengingat institusi yang terpilih sebagai WHO CC harus memenuhi sejumlah kriteria kualitas yang telah ditetapkan baik itu dalam hal kepemimpinan, kualifikasi para staf, jejaring, kemampuan ilmiah serta teknis dan sebagainya.

Melalui WHO CC, Pusat Krisis Kesehatan memiliki tujuan untuk memperkuat kapasitas operasional dalam pengelolaan kesehatan saat masa kedaruratan dan bencana, serta untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam berbagai kompetensi yang diperlukan untuk manajemen risiko dan tanggap darurat. Untuk mencapai tujuan tersebut, dilakukan dengan beberapa kegiatan yaitu:

  1. Pelatihan dan Pendidikan;
  2. Pengembangan produk (pedoman, panduan, metodologi, dsb);
  3. Penyediaan bahan referensi dan layanan lainnya.

 

WHO Collaborating Center (WHO-CC)

WHO CC merupakan institusi yang ditunjuk oleh WHO Director General untuk bersama-sama membentuk jaringan kolaborasi internasional serta menjalankan aktivitas yang mendukung program-program WHO. Kerja sama berakhir dalam periode 4 tahun dan setelah itu dapat dilakukan proses penunjukan ulang atau re-designation. Dengan adanya kolaborasi tersebut, WHO mendapatkan manfaat karena telah dibantu oleh institusi-institusi terbaik di seluruh dunia untuk menjalankan program-program yang telah dimandatkan pada WHO. Begitu pula dengan institusi-institusi yang berkolaborasi, penunjukan sebagai WHO CC membuat program kesehatan institusi-institusi tersebut semakin mendapatkan perhatian dari para pemegang kebijakan dan masyarakat, juga mendapatkan kesempatan untuk bertukar informasi serta mengembangkan kerjasama teknis dengan institusi-institusi lainnya di seluruh dunia. Keuntungan lainnya adalah institusi tersebut memiliki kesempatan untuk mendapatkan bantuan sumber-sumber daya yang dibutuhkan dari pihak donor.

Saat ini terdapat 827 institusi di lebih dari 90 negara yang telah menjadi WHO CC. Di Indonesia terdapat 2 WHO CC yang masih aktif yaitu WHO CC untuk Pencegahan Ketulian serta Gangguan Pendengaran (Institusi: Universitas Indonesia) dan WHO CC untuk Pelatihan dan Penelitian dalam Pengurangan Risiko Bencana (Institusi: Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan) yang merupakan bagian dari subjek kedaruratan dan upaya kemanusiaan. 

Tercatat sebanyak 52 WHO CC dari 27 negara yang memiliki subjek kedaruratan dan upaya kemanusiaan. Hampir separuh dari WHO CC tersebut berada di regional Eropa, sedangkan untuk regional South-East Asia (SEARO) sebanyak 3 negara yaitu Indonesia, India dan Thailand. Jenis kegiatan yang paling banyak dilakukan adalah pendidikan dan pelatihan, penelitian, serta pengembangan produk seperti pedoman dan manual. Keberadaan WHO CC lain yang memiliki subjek sama dengan WHO CC Pusat Krisis Kesehatan, dapat menjadi bahan referensi bagi PKK dalam mengembangkan WHO CCnya.

WP: Western Pacific

AM: Americas

AF: Africa

SE: South-East Asia

EM:  Eastern Mediterranean

EU: Europe

 

Kegiatan WHO CC

Sejak ditunjuknya PKK sebagai WHO CC pada tahun 2012, serangkaian kegiatan dilakukan yang bertujuan untuk memperkuat kapasitas operasional dalam pengelolaan kesehatan saat masa kedaruratan dan bencana, serta untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam berbagai kompetensi yang diperlukan untuk manajemen risiko dan tanggap darurat. 

Adapun kegiatan tersebut seperti  peningkatan kapasitas internasional ITC DRR (International Training Consortium on Disaster Risk Reduction), Pelatihan Manajemen  Bencana, pendampingan penyusunan peta respon, penyusunan rencana kontijensi, Table Top Exercise (TTX), simulasi penanggulangan krisis kesehatan, pertemuan koordinasi klaster dan sub-klaster kesehatan, pelatihan Sistem Informasi Penanggulangan Krisis Kesehatan (SIPKK), penyusunan pedoman Emergency Medical Team (EMT). 

Kedepannya Pusat Krisis Kesehatan akan terus meningkatkan kontribusinya dalam bidang pelatihan dan Pendidikan, pengembangan pedoman, panduan dan penyediaan referensi di bidang krisis kesehatan.