Tim Task Force Kemenkes Kunjungi Posko Pengungsian Merapi di Selo Boyolali

Senin, 30 November 2020

62

Tim Task Force Kemenkes Kunjungi Posko Pengungsian Merapi di Selo Boyolali

Usai melakukan audiensi dengan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali beserta jajarannya, rombongan Tim Task Force Kementerian Kesehatan didampingi Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Yulianto Prabowo bergerak menuju Posko Pengungsian Gunung Merapi yang terletak di Desa Tlogolele, Kabupaten Boyolali pada Minggu sore (29/11).

Sesampainya di Desa Tlogolele, ketua rombongan Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Peningkatan Pelayanan Jajang Edi Priyatno langsung menyapa dan berbincang dengan masyarakat, relawan serta pemerintah desa setempat.

Sekretaris Desa Tlogolele Neigen Achtah Nur Edy Saputra menyebutkan Pemerintah Desa telah menyediakan 2 Tempat Penampungan Pengungsi Sementara [TPPS], salah satunya berada di gedung aula yang disulap menjadi lokasi pengungsian. Gedung tersebut disekat menjadi 31 bilik berukuran 2 x 2 meter. Dalam satu bilik diisi oleh satu keluarga. Selain itu, BPBD juga mendirikan tenda besar yang terletak dihalaman depan GOR.

“(Merapi) status siaga makanya yang kami ungsikan adalah kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan ibu hamil. Mereka berasal dari 3 dusun dan telah berada disini selama 2 minggu,” katanya.

Saat ini, total pengungsi sebanyak 110 kepala keluarga atau 273 orang, yang berasal dari 3 dusun yakni Dukuh Stabelan, Takeran, dan Belang. Seluruhnya dalam kondisi sehat. Diperkirakan, naiknya aktivitas Merapi ini telah berdampak pada 3000 warga Desa Tlogolele.

Dia menjelaskan bahwa jumlah tersebut belum semuanya, masih banyak masyarakat yang saat ini memutuskan untuk tetap beraktivitas di rumahnya. Mayoritas enggan mengungsi karena hendak menjaga rumah dan ternaknya. Kendati tidak mengungsi, warga laki-laki sesekali mengunjungi posko pengungsian.

Terkait dengan kebutuhan para pengungsi, Jajang menjelaskan bahwa Kemenkes siap mengupayakan bantuan berupa vitamin C bagi para pengungsi dan relawan. Bantuan logistik sebelumnya juga datang dari berbagai pihak seperti Kemensos, BPBD, Kecamatan, donatur dan lain sebagainya.

“Kita akan upayakan untuk kirim vitamin c, didata saja kira-kira buruhnya berapa, nanti kami upayakan agar bisa drop

Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan makanan, Pemdes telah mendirikan dapur umum yang terletak persis disamping aula. Pengelolaannya dibanti oleh Ibu-Ibu PKK serta Karang Taruna Desa Tlogolele.

“Makan kita ada dapur umum, kebanyakan yang kita libatkan dalam penanganan pengungsi ini semuanya masyarakat lokal mulai dari Ibu-Ibu PKK, pemuda desa, dan satgas desa,” tutur Neigen.

Dengan jumlah pengungsi yang banyak serta telah musim penghujan, Neigen mengatakan bahwa limbah dan banyaknya lalat menjadi persoalan yang hingga kini belum teratasi. Sementara ini, untuk menguranginya para relawan melakukan penyemprotan secara berkala. Melihat persoalan tersebut, Kepala BBTKL PP Yogyakarta Irene menyatakan siap membantu untuk mengatasinya.

“Kalau lalat nanti bisa kasih tahu saja ke BTKL, nanti kami kirimkan tim untuk melakukan penyemprotan disini,” kata Irene

Sebagai langkah antisipasi, Kadinkes Boyolali Ratri S Survivalina menjabarkan pihaknya telah melakukan pemeriksaan COVID-19 pada sebagian pengungsi serta menyiagakan sebanyak 20 ambulans dan 500 relawan yang bertugas bergantian.

“Total ada 20 ambulans yang siaga, setiap hari ada 1 yang stand by. Kalau ada yang sakit, nanti langsung di rujuk ke Puskesmas, Alhamdulillah sampai saat ini mereka dalam keadaan sehat,” kata Ratri.

Pada kesempatan tersebut, rombongan juga berkeliling melihat kondisi dan posko pengungsian mulai dari tempat tidur, dapur umum, dan posko relawan.

Usai berkeliling, Jajang mengimbau masyarakat dan para relawan yang terlibat untuk selalu disiplin menerapkan protokol kesehatan dengn 3M yakni memakai masker, menjaga jarak aman dan mencuci tangan pakai masker. Cara ini digunakan sebagai langkah mitigasi penularan COVID-19, sehingga dapat mencegah timbulnya kluster COVID-19 di pengungsian.

“Jangan sampai ini menimbulkan kekhawatiran baru ditengah masyarakat. Kuncinya protokol kesehatan, dengan disiplin menerapkan panduan tersebut diharapkan dapat meminimalisir risiko penularan di pengungsian akibat dari berkumpulnya banyak orang dalam satu lokasi,” kata Jajang

 

Sumber : sehatnegeriku.kemkes.go.i