Pusat Krisis Kesehatan Merespon Cepat Bencana Gempa Bumi di Kabupaten Tuban

257

Pusat Krisis Kesehatan merespon Cepat Bencana Gempa Bumi di Kabupaten Tuban

Jakarta, 23 Maret 2024

Pusat Krisis Kesehatan merespon cepat bencana gempa bumi di Kabupaten Tuban dengan mengirimkan tim RHA (Rapid Health Assessment) untuk melakukan pendampingan dan monitoring secara langsung.
Tercatat empat orang korban gempa di Kabupaten Gresik Jawa Timur yang terdampak  parah,  memerlukan tawat inap di rumah sakit, sementara tiga orang lainnya cukup dengan rawat jalan.

“Para korban langsung dirawat di RSUD Umar Masud. Ada yang sobek bagian kepala, luka terbuka di bagian kaki dah patah telapak kakinya. Kami juga mengidentifikasi fasilitas kesehatan yang terdampak dan mengirim tenaga pendamping manajemen krisis kesehatan. Perlu koordinasi lintas sektor terkait dampak yang timbul pasca gempa ini,” kata Sumarjaya, Kepala Pusat Krisis Kesehatan, Kementerian Kesehatan di Jakarta.

Gempa dengan kedalaman 10 km di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik terjadi sebanyak tiga kali dengan skala 6.0M, 5.3M, dan 6,5M. Guncangan dirasakan di Kota Kediri, diikuti Kabupaten Pacitan, Bangkalan, Pamekasan, Sampang, Sumenep, Ngawi, Probolinggo, Trenggalek, Batu, Sleman, Temanggung, Kota Solo dan Kota Yogyakarta.

Gerak  cepat dilakukan Puskris Kesehatan dengan mengkoordinasikan pelayanan kesehatan korban, dan memantau dampak kejadian bencana. Di lapangan, Dinkes Kabupaten Gresik terus berkoordinasi dengan tenaga kesehatan di Pulau Bawean termasuk soal pengiriman tenda yang belum dapat dilakukan karena belum ada kapal angkut dan tim khusus untuk pendirian tenda. Sementara ini para pasien terdampak terpaksa dirawat di selasar Gedung RSUD Umar.

“Evakuasi medis terhadap pasien di RSUD terdampak terus dilakukan, juga memantau perkembangan pasca gempa. Kami juga melakukan edukasi dan himbauan agar masyarakat tetap waspada,” lanjut Sumarjaya.

Dia menjelaskan, saat ini kelompok rentan yang terdata adalah 427 bayi, 1.647 balita, 468 ibu hamil dan 3.446 lanjut usia. Sementara para pengungsi di Klinik Al Manar dan Teluk Jatidawang tercatat 60 orang. Untuk bergerak di lapangan, telah siaga lima orang dokter spesialis, 10 dokter umum, empat dokter gigi dan tujuh dokter internship.