Simulasi Penanggulangan Krisis Kesehatan Bencana Gempa Bumi dan Tsunami dalam rangka Pertemuan GPDRR Ke-7 Tahun 2022

132

Simulasi Penanggulangan Krisis Kesehatan Bencana Gempa Bumi dan Tsunami dalam rangka Pertemuan GPDRR Ke-7 Tahun 2022

Bali, 19 Mei 2022

 

Dalam rangka meningkatkan  kesiapaan, kesiapsiagaan dan kapasitas sumber daya kesehatan,  provinsi Bali dalam menghadapi bencana dan kedaruratan kesehatan, serta untuk mendukung pelaksanaan pertemuan Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) Ke-7 tahun 2022, Pusat Krisis Kesehatan melaksanakan kegiatan Simulasi Penanggulangan Krisis Kesehatan dengan ancaman bencana gempa bumi dan tsunami. Kegiatan  ini dilaksanakan pada tanggal 19 Mei 2022 berlokasi di RS Udayana Bali. Pelaksanaan kegiatan disiarkan secara langsung melalui kanal media sosial Pusat Krisis, melalui Youtube, Facebook, Instagram dan Twitter Pusat Krisis Kesehatan.

 

Dalam skenario yang dimainkan, disimulasikan bagaimana penanganan korban yang terdampak gempa dan tsunami di lokasi pertemuan GPDRR dimana diperkirakan ada sekitar 3.000 peserta yang hadir termasuk oleh Presiden dan pejabat negara lain.  Kegiatan ini mensimulasikan aktivitas manajemen penanganan korban massal, evakuasi korban, manajemen korban luka dan korban meninggal, sistem rujukan, manajemen pra Rumah Sakit, inter dan antar Rumah sakit serta manajemen ambulans. Disamping itu juga disimulasikan manajemen Disaster Medical Teams (DMTs), Health Emergency Operation Center (HEOC) serta komunikasi publik. Hal utama yang juga disimulasikan bagaimana sistem komando dan koordinasi dalam pengelolaan bencana, dimana begitu banyak stakeholder yang terlibat, perlu berada dalam satu komando, Incident Commander tanggap darurat bencana yang telah ditunjuk oleh Kepala daerah. Hal ini penting agar penanggulangan dapat berjalan sinergis, kolaboratif dan optimal serta terkoordinasi dengan baik.

 

Dinas Kesehatan Provinsi Bali berperan dalam manajemen HEOC yang langsung dipimpin oleh Kepala Dinas Kesehatan. Untuk tim DMTs diperankan oleh tim dari RS  Udayana, RS Bali Mandara, RSUD Badung, RS Tabanan dan RSUP Sanglah, yang juga menjadi rumah sakit rujukan para korban bencana. Para korban bencana diperankan oleh Perhimpunan Tim Bantuan Medis Mahasiswa Kedokteran Indonesia (PTBMMKI) Universitas Udayana dan Universitas Warmadewa. Untuk tim evakuasi diperankan oleh Tim SAR, untuk identifikasi korban meninggal oleh tim DVI Polda Denpasar dan tim Pengamanan Tamu VIP oleh Kodam IX Udayana dan Kesehatan Kodam. Selain itu, observer diperankan oleh BNPB dan anggota Pokja (Kelompok Kerja DMTs) yang terdiri dari Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia (PABI), Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), Lembaga Kesehatan Nadhlatul Ulama, Aksi Cepat Tanggap (ACT), Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), International Committee of the Red Cross (ICRC), Yayasan Ambulans Gawat Darurat (AGD) 118, Emergency Medical Team – Ikatan Dokter Indonesia (EMT-IDI), Indonesian Wound Care Clinician Association (InWCCA), Medecins Sans Frontieres (MSF), Yayasan Ksatria Medika Airlangga, Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) dan Perhimpunan Tim Bantuan Medis Mahasiswa Kedokteran Indonesia (PTBMMKI).

 

 

Setelah pelaksanaan simulasi dilanjutkan dengan evaluasi pelaksanaan kegiatan. Evaluasi tidak hanya dilakukan oleh tim evaluator, tetapi peserta juga memberikan masukan evaluasi untuk perbaikan kedepan. Hasil evaluasi kegiatan simulasi yang telah dilaksanakan secara umum baik namun ada beberapa hal yang menjadi masukan diantaranya :

 

  1. Identitas pelaku simulasi harus jelas antara DMTs, observer, dan evaluator.
  2. Formulir registrasi, formulir pelaporan DMTS dan SOP HEOC sudah sederhana dan muda dipahami.
  3. Form RHA diperlukan penyesuaian.

 

Dinas Kesehatan Prov Bali menyampaikan terima kasih dan apresiasi, serta mengharapkan dukungan untuk pelaksanaan simulasi kesiapsiagaan untuk pertemuan G20 pada November 2022. Diharapkan dengan  pelaksanaan simulasi yang rutin, dapat meningkatkan kapasitas dan kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi bencana sehingga penanggulangan bencana dapat direspons dengan baik serta dapat meminimalkan korban jiwa.